Karya 7: Bingkai Hidup

Puisi ini tersiar di majalah Tunas Cipta Disember 2008
.
Bingkai Hidup
(saat sakaratul maut menjemput)

Kita menyorot kaku
bingkai riwayat mereka, kagum
menghidu cat-cat tabah yang
menggarap kanvas kehidupan.

Kita meruntun layu
bila Izrail menurut titah al-Mumit,
mampir menuntut kembali lukisan pinjaman
yang dulunya dibuat pameran.

Kita meratap sayu
bila disentap ruh kaca itu
pohon benar dilunak dia!
Sedari kitalah yang kan tertewas
andai terketai ia di lantai waras
lantas merasuk rajuk yang tak terbujuk.

Dakwat Fikir
13 September 2008, 15.05,
Beanntrai, Ireland.
.
Puisi ini aku dedikasikan untuk engkau. Engkau yang kehilangan dan berhak untuk menangisinya.
.
Namun engkau juga berhak untuk berhenti menangisi dan tidak lagi mati.
.
Engkau, aku menulis untuk engkau.
Advertisements

About Abdul Rahim

Tertera nama Abdul Rahim bin Zainudin

Posted on March 25, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: